Program KB Sebagai Upaya dalam Menekan Tingginya Fertilisasi di Indonesia

Oleh : Fitria Helmanila

kb2

Bertambahnya penduduk Indonesia dari tahun ke tahun merupakan awal permasalahan bagi Indonesia apabila sumber daya manusia yang membludak itu tidak didukung dengan pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kehidupan yang layak. Pertambahan penduduk disebabkan karena angka fertilisasi yang tinggi. Masyarakat kalangan bawah cenderung memiliki anak lebih dari tiga. Anggapan tersebut bukan hanya sebuah isapan jempol, tetapi anggapan tersebut merupakan hasil riset dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada sejumlah provinsi.

Menurut saya, Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah belum sepenuhnya tepat kepada sasaran yang ingin di tuju. Ketidaktepatan sasaran tersebut disebabkan karena…

1. Banyak Anak Banyak Rezeki

banyak anak banyak rezeki

Masyarakat miskin masih beranggapan bahwa anak merupakan sebuah investasi, bahkan orang dahulu menyebutkan,”banyak anak banyak rezeki”. Mereka beranggapan seorang anak mampu membantu perekonomian keluarga dengan menjadi tenaga kerja, atau membantu profesi orang tuanya sehingga salah satu program KB pemerintah belum juga mampu mengatasi permasalahan angka fertilisasi yang tinggi di Indonesia.

2. Kurangnya pemahaman mengenai program keluarga berencana

book

Kurangnya pemahaman mengenai program keluarga berencana yang dibuat oleh pemerintah. Ketidakpahaman tersebut bisa jadi karena tingkat pendidikan yang rendah. Masyarakat yang berada pada garis kemiskinan cenderung takut akan biaya dan alat yang digunakan oleh program keluarga berencana.

3. Satu-satunya hiburan masyarakat miskin

hiburan

Mari kita bandingkan masyarakat kalangan atas dengan masyarakat kalangan bawah. Masyarakat kalangan atas memiliki berbagai hiburan untuk mendapatkan kesenangan, hal ini karena mereka didukung dengan perekenomian yang kuat. Kalau bosan mereka bisa nonton film di bioskop bersama istri, traveling, nonton tv bersama keluarga, ditambah bermunculan teknologi informasi yang berkembang pesat, ipad, iphone, bb, dll. Masyarakat kalangan atas memiliki banyak pilihan untuk memuaskan keinginan dan kesenangannya. Namun, berbeda dengan keluarga masyarakat yang berada pada garis kemiskinan, jangankan untuk nonton tv, nonton bioskop, atau traveling, dll. Untuk makan pun mereka sulit. Sehingga melakukan hubungan suami istri dengan pasangannya adalah sebuah hiburan bagi mereka, karena memang mereka tidak memiliki opsi untuk mendapatkan kesenangan.

Pertambahan penduduk berdampak kepada kemiskinan jika penduduk yang bertambah tersebut tidak didukung dengan pendidikan yang tinggi, pengenalan teknologi dan bahasa, lapangan pekerjaan yang memadai, dan kehidupan yang layak. Kemiskinan di Indonesia yang tidak merata dan kurangnya pembangunan infrastruktur berdampak kepada ketidak stabilan sistem ketatanegaraan. Tak pelak lagi, perlu adanya evaluasi dan pengembangan program yang dibuat pemerintah. Namun, tidak semata-mata dirubah total secara keseluruhan, hanya dikembangkan saja, karena pada dasarnya ide dan program yang dibuat pemerintah sudah sangat baik, hanya kurang kepada pemerataan dan pengembangan yang menyeluruh. Mungkin saja di setiap daerah dibuat tempat rekreasi gratis sehingga kalangan bawah memiliki berbagai hiburan, tidak lagi hanya memiliki satu opsi untuk mendapatkan kesenangan, sosialisasi program KB dengan gencar, ditambah pemerataan pendidikan daerah-daerah miskin, pembangunan infrastruktur yang merata, dll. Tidak hanya dipulau jawa, tetapi juga di pulau-pulau yang lain yang penduduknya masih berada pada garis kemiskinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s