Jangan Lagi Ada Aceng Fikri yang Lain

Oleh : Fitria Helmanila

cincin

Hari ini hari terakhir di penghujung tahun 2012, pagi ini saya tertawa terpingkal-pingkal setelah membaca berita di republika yang berjudul “Biaya Nikah Mahal, Penyebab Kumpul Kebo”. Di dalam republika dituliskan kalau penetapan biaya yang mahal bisa membuat masyarakat malas mengurus pernikahan, sehingga banyak yang memilih melakukan tindak perzinahan dengan kumpul kebo. Kepala bagian Tata Usaha Kementrian Agama Provinsi Bali, Drs H Wayan Syamsul Bahri Mdpl mengatakan pemerintah mesti membuat kebijakan yang mempermudah administrasi pernikahan. Masyarakat kita masih banyak yang miskin, yang kesanggupan membiayai kegiatan pernikahan juga terbatas. Jadi mereka jangan dikenakan tariff yang mahal untuk melangsungkan pernikahan.” kata Syamsul di Denpasar.

Pendapat dan ide pemerintah dalam mengusulkan biaya nikah yang murah sangat bagus sehingga dalam melangsungkan pernikahan yang suci, masyarakat tidak perlu lagi resah dengan biayanya. Tapi konsep kumpul kebo yang dijabarkan membuat saya terpingkal-pingkal. Kenapa terpingkal-pingkal?, separah itukah zaman sekarang dalam menilai pernikahan, bukankah pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral dan suci. Tujuannya menyatukan hati seseorang untuk siap menjalani hidup bersama dalam suka maupun duka, menjadi keluarga bahagia, memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang, dan ketentraman hidup. Bukankah pernikahan adalah agar dua insan saling mengisi kekurangan, saling menopang.

images (3)

Kasus yang paling menyedihkan adalah pada saat saya mendengarkan kasus pernikahan singkat empat hari Bupati Garut, Aceng HM Fikri, dengan perempuan berusian 18 tahun. Sang bupati garut tersebut menceraikan istrinya pada hari ke-4 melalui pesang singkat (SMS) karena dinilai istrinya sudah lagi tidak perawan. Jika kita menelik kasus tersebut, hal yang dilakukan oleh Aceng Fikri sudah sangat merendahkan kaum perempuan dan menodai makna nilai esensi pernikahan yang suci dan sakral. Sebenarnya apa yang ada difikiran Bupati Garut tersebut mengenai soal pernikahan, apa Bupati Garut tersebut (juga termasuk orang-prang yang melakukan persis seperti ini) mengganggap pernikahan hanya untuk memuaskan nafsu birahinya dengan legal. Setelah nafsu terpuaskan, maka dengan santai, ia menceraikan istrinya karena dinilai istrinya sudah tidak bisa melayaninya. Sungguh kejam sekali orang seperti ini.

Jika kita menghubungkan dengan berita di Republika, yang berjudul ”Biaya Nikah Mahal, Penyebab Kumpul Kebo” dengan kasus Aceng Fikri tersebut. Yang menjadi fikiran saya adalah dengan biaya pernikahan sekarang yang dinilai terlalu mahal saja orang-orang seperti Aceng Fikri nikah hanya empat hari lalu menceraikan istrinya. Bagaimana dengan biaya murah, apa akan muncul kasus aceng fikri-aceng fikri yang lain yang menikahi istrinya hanya empat hari, atau bahkan satu hari. Miris sekali !.

Namun memang, untuk daerah yang di perbatasan, daerah-daerah yang sulit dijangkau. Biaya pernikahan masih menjadi sangat sulit. Untuk itu biaya pernikahan tidak seharusnya dipukul rata. Tetapi biaya pernikahan ditetapkan atas dasar pertimbangan daerahnya, tingkat kemiskinannya, dan rata-rata tingkat pendidikan penduduknya.

Sekian tulisan saya hari ini, jika ada kesalahan mohon sekiranya dimaafkan dan dikoreksi, selamat pagi, selamat beraktivitas 

“Abu Hurairah RA berkata,sabda Rasullullah SAW kepada seorang laki-laki yang hendak menikah dengan seorang perempuan: “Apakah kamu telah melihatnya?jawabnya tidak(kata lelaki itu kepada Rasullullah).Pergilah untuk melihatnya supaya pernikahan kamu terjamin kekekalan.” (Hadis Riwayat Tarmizi dan Nasai)

One thought on “Jangan Lagi Ada Aceng Fikri yang Lain

  1. Saya setuju pandangan anda yang sangat humanist banget. type orang seperti aceng fikri itu lebih baik tidak dilahirkan. apa yang dilakukan sangat menodai martabat seorang bunda. tapi ya mohon maaf juga, di jaman sekarang banyak orang memilih harta meski dirinya terhina. tau kan maksud saya rendahnya martabat seorang wanita dimata dunia karena wanita mengutamakan harta. mana ada wanita mau dinikahi oleh orang yang dianggap miskin. pasti dia memilih yang kaya. nah mental itu nular ke wanita yang lain dan menjadi konsumsi laki laki seperti aceng fikri yang bisa memberi uang tutup mulut. saya juga sedih karenanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s