Jeritan Hati Pahlawan Devisa

Oleh : Fitria Helmanila

SnapCrab_NoName_1980-1-24_1-13-37_No-00

Pengiriman pahlawan devisa (TKI) ke luar negeri di latar belakangi oleh ketersediaan lapangan kerja di Indonesia yang tidak memadai, sehingga jumlah pengangguran terus mengalami peningkatan, dan rendahnya sumber penghasilan devisa negara bagi pemerintah. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengirim Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TKI di luar negeri tidak hanya sebagai pembantu rumah tangga saja, berbagai macam profesi juga disediakan. Namun menurut informasi yang didapat dari solopos bahwa 76% TKI di luar negeri berprofesi sebagai pembantu rumah tangga atau bisa disebut sebagai buruh migran. Istilah pahlawan devisa karena gaji yang mereka dapatkan mereka kirimkan ke Indonesia, dan membantu sumbangan devisa yang sangat besar. Pemerintah patut berterima kasih dengan adanya keberadaan TKI yang tersebar di lebih dari 161 negara di dunia. Pasalnya, menurut Deputi Perlindungan BNP2TKI Lisna Y Poelongan adalah remitisasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menyumbang 10% nilai APBN, dan menempati posisi kedua setelah migas. Angka 10% ini mampu membantu roda perekonomian Indonesia. Lisna Yuliani Poeloengan mengungkapkan perolehan devisa negara dari TKI rata-rata sebesar US$ 6-7 miliar per tahun.

Badan dan pelayanan yang mengurusi masalah penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri adalah PJTKI dan BNP2TKI. Badan atau pelayanan tersebut bertanggung jawab dengan proses pengiriman TKI ke luar negeri sampai dengan kepulangannya ke Indonesia. BNP2TKI bertanggung jawab dengan penempatan dan pelindungan TKI di Indonesia. Sedangkan PJTKI berperan dalam menyiapkan Tenaga Kerja Indonesia yang terampil.

Namun, pada kenyataan di lapangan membuktikan adanya berbagai kasus yang menimpa TKI di luar negeri. Mulai dari tindak kekerasan, pemerkosaan, penembakan, bahkan yang lebih menyedihkan pula, muncul informasi terkait soal penjualan organ dan perdagangan TKI di mall-mall dengan iklan TKI on sale. Menurut saya, banyak faktor-faktor pemicu adanya tindak kekerasan, pelecehan, dan hukuman yang dialami oleh TKI di luar negeri. Selain terkait soal kekejaman majikan, tidak jarang pula hukuman yang dialami TKI dikarenakan faktor ketidak-terampilan tenaga kerja di luar negeri, dan ketidakfahaman Tenaga Kerja Indonesia dengan budaya, dan tata krama negara yang mereka ingin tuju. Tindak kekerasan, pelecehan, dan hukuman yang dialami oleh TKI di luar negeri sudah pasti menjadi tugas besar dan tanggung jawab pemerintah dan badan terkait pelayanan TKI. Pemerintah harus memiliki undang-undang terkait soal TKI di luar negeri dengan jelas dan tegas, mengawasi dengan ketat, dan melindungi TKI di luar negeri. Sedangkan jasa pelayanan TKI harus jujur, dan bertanggung jawab dalam menciptakan tenaga trampil agar TKI siap ditempatkan di luar negeri. Jasa pelayanan TKI harus mampu menyeleksi dan meng-edukasi calon Tenaga Kerja Indonesia yang ingin diberengkatkan ke negara tujuan, edukasi yang dilakukan adalah edukasi profesi yaitu memberikan pendidikan terkait profesi yang akan dijalankan oleh TKI, edukasi bahasa yaitu memberikan pendidikan kemampuan bahasa agar tidak ada salah pengertian antar majikan dan pekerja, serta edukasi budaya dan manner yaitu memberikan pendidikan budaya dan manner negara yang akan dituju oleh Tenaga Kerja Indonesia. Dan tidak lupa BNP2TKI juga harus jeli dan bertanggung jawab terhadap kasus-kasus kekerasan dan pelecehan.

kekerasan TKI

Dalam pelaksanaannya, kasus-kasus yang muncul yang dialami TKI di Indonesia masih belum ditangani secara cepat. Penanganannya masih sangat lamban, dan hukum yang terkait masih sangat lemah. Kasus tiga TKI asal NTB (Herman, Abdul Kadir Jaelani, dan Mad Noon) yang ditembak pada 25 Maret 2012 merupakan bukti kerentaan buruh migran atau Tenaga Kerja di Indonesia. Pemerintah belum berpihak kepada mereka. Setiap ditanya soal kasus tersebut, kriminalitas yang terjadi menjadi alasan klasik yang dilayangkan, padahal belum ada bukti terkait soal kriminalitas yang dilakukan TKI tersebut.

Selain kasus pelecehan, dan kekerasan, harapan untuk hidup yang layak oleh para TKI juga sering di manfaatkan oleh kalangan yang tidak bertanggung jawab. Jasa swasta yang menawarkan pengiriman TKI ke luar negeri dan mengiming-imingi kehidupan yang layak, fasilitas yang memadai, dan upah yang tinggi membuat calon tenaga kerja di daerah-daerah yang sedang mencari kerja tergerak untuk mengikuti saran dan tawaran dari jasa pelayanan TKI ilegal. Alih-alih untung malah buntung, Alih-alih ingin kehidupan layak, yang diadapat malah kehidupan yang suram. Jasa pelayanan TKI ilegal tersebut menjanjikan banyak hal, namun pada kenyataanya banyak kasus upah yang tidak dibayarkan dan TKI mengalami tindak kekerasan. Pelatihan tenaga kerja pun dibuat seadanya, asal keuntungan masuk pundi-pundi kas pribadi.

images (2)

Miris memang jika kita melihat potret kehidupan para Tenaga Kerja di Indonesia. ”Tolong Kasihani Kami Pak…” mungkin itulah kata-kata yang terpendam dari hati para TKI di Indonesia. Kasihanilah para TKI-TKI ini pak. Beri mereka kehidupan yang layak, mereka adalah sumber devisa negara. Beri mereka keterampilan yang memadai, pengetahuan yang hebat, dan kemampuan beladiri kalau-kalau ada majikan yang memperlakukan dengan tidak baik. Lindungi pula mereka para pemangku kepentingan agar negara RI memiliki wibawa dan tidak diremeh-temehkan dengan negara lain.

Memang sudah seharusnya pemerintah tidak lagi mendidik masyarakat Indonesia dengan bermental pekerja, tetapi menjadi masyarakat yang bermental wirausaha. Agar terciptanya persaingan bisnis, dan semakin terbukanya lapangan pekerjaan yang layak bagi masyarakat.

Sekian tulisan saya hari ini, jika ada kesalahan mohon kiranya untuk dimaafkan, selamat malam, selamat beristirahat ! 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s