Diskriminasi Ilmu Sebagai Penghambat Pelajar Untuk Berkembang

Oleh : Fitria Helmanila

Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara. Diskriminasi di dalam kamus besar Indonesia memiliki banyak tipe, yaitu diskriminasi berdasarkan warna kulit, diskriminasi berdasarkan golongan suku, ekonomi, agama, dsb. Diskriminasi kelamin adalah pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan perbedaan jenis kelamin; Diskriminasi golongan suku adalah pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan anggapan segolongan suku tertentu bahwa suku itulah yang paling unggul dibandingkan dengan golongan suku lain; Diskriminasi sosial adalah pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan kedudukan sosialnya. Mendiskriminasi adalah melakukan atau membuat diskriminasi.

Dari pengertian tentang diskriminasi tersebut jelas bahwa diskriminasi merupakan pembedaan perlakuan. Pembedaan perlakuan memiliki dampak bagi seseorang yang mengalami perlakuan yang berbeda tersebut. Apa yang terjadi jika pembedaan perlakuan tersebut dialami oleh banyak pelajar di Indonesia. Pembedaan perlakuan yang dialami tersebut berdasarkan ilmu yang dipilih oleh masing-masing pelajar di Indonesia. Di negara kita masih banyak pola tingkah laku sosial yang mendekriminasikan pelajar beradasarkan ilmu yang dipilih, yang diminati, atau yang menjadi bakat alamiah dari masing-masing pelajar.

Pola tingkah laku sosial yang terjadi oleh banyak pelajar di Indonesia sejak mereka duduk di bangku SD hingga mengenyam pendidikan di perguruan tinggi adalah diskriminasi ilmu yang kurang disinggung. Diskriminasi ilmu adalah suatu bentuk bullying yang tersirat dan seakan-akan dilegalkan oleh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, bahkan sampai tingkat pemerintahan. Pada tingkat sekolah, banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk mengikuti kursus matematika, tanpa memperhatikan apakah sang anak senang dengan pelajarannya atau tidak. Pada tingkat sekolah menengah atas dimana diadakan penjurusan antara IPA atau IPS, banyak orang tua yang memaksa anaknya pula untuk masuk jurusan IPA dengan alasan gengsi bukan melihat pada bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh anaknya.Bahkan pada tingkat masuk area seleksi pekerjaan pun, pada tahap psikotes, soal-soal psikotes tidak dibedakan berdasarkan kebutuhan pelamar. Metode ini hanya akan mengantarkan orang yang lebih jago matematis yang lolos, bukan orang yang cocok di bidang yang dilamar dengan kemampuan matematis yang rendah. Cara-cara seperti ini pula yang menghambat perkembangan seseorang dalam memilih dan serius pada bidang yang diminati sehingga jarang sekali ditemukan seseorang yang ahli di Indonesia. Diskriminasi ilmu pula yang membuat seseorang memilih bidang ilmu dengan alasan gengsi, bukan karena bakat alami dan minat yang mereka miliki, hasil yang didapat pun menjadi setengah-setangah. Mengingkari bakat alami anak-anak yang dimiliki akan membuat mereka tidak bisa menikmati yang mereka kerjakan. Memaksakan anak-anak untuk belajar atau mengerjakan hal yang tidak mereka sukai, baik dari orang tua dan guru di sekolah atas dasar gengsi merupakan bentuk bullying yang paling kejam, namun tidak kita sadari selama ini.
Padahal kecerdasan tidak diukur dengan keberadaan ilmu apa yang dipilih. Tetapi kecerdasan adalah ketika bakat dan minat saling bertemu. Kemampuan sang anak dalam berpikir. Hal yang terpenting adalah melakukan yang terbaik pada bidang yang mereka minati, yang mereka sukai, dan yang mereka pilih.

Ada kecerdasan manusia dalam 8 kategori. Penulis sangat mendukung teori kecerdasan manusia dalam 8 kategori ini karena pembagian kecerdasan seperti ini sangat bertolak belakang dengan diskriminasi ilmu yang kerap terjadi di negara kita, teori kecerdasan 8 kategori ini menganggap bahwa semua manusia pada dasarnya adalah cerdas pada bidang bakat dan minat yang dimilikinya.

1. Kecerdasan Linguistik
Adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan kata secara efektif, lisan, maupun tertulis. Meliputi juga kemampuan memanipulasi dan mengolah tata bahasa atau struktur kalimat, susunan, huruf, dan mampu menyusunnya dengan baik dan indah.

2. Kecerdasan Matematis-logis
Adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan angka dengan baik, melakukan penalaran dengan benar, kepekaan pada pola dan hubungan antar hal, fungsi logis dan abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdaan ini anatar lain kategorisasi (pengelompokan sesuatu), klasifikasi (pemisahan), pengambilan kesimpulan, generalisasi, perhitungan, dan pengujian hipotesis.

3. Kecerdasan Spasial
Adalah Kemampuan mempersepsikan dunia spasial-visual secara akurat, mentranformasikannya. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar unsur. Kemampuan membayangkan sesuatu, mempresentasikan ide dengan cara visual, mengorientasikan diri secara tepat dalam matriks spasial.

4. Kecerdasan kinestesis
Adalah Kemampuan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide atau perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu, kelenturan kekuatan, akan berhubungan hal yang berkaitan dengan sentuhan.

5. Kecerdasan Musical
Adalah Kemampuan menangani bentuk-bentuk musical dengan cara membedakan, mengubah, kepekaan pada nada, irama, melodi. Bisa dengan cepat menghafal lagu dan menggunakan musik untuk menghafal pelajaran.

6. Kecerdasan Interpersonal
Adalah Kemampuan mempersepsikan dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, dan perasaan orang lain. Kepekaan terhadap ekspresi wajah, reka, suara, kemampuan menanggapi secara efektif tanda-tanda tersebut dan mempengaruhi kelompok orang untuk melakukan tindakan tertentu.

7. Kecerdasan Intrapersonal
Adalah Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kepekaan terhadap memahami diri sendiri, kesadaran atas suasan hati, keinginan, kemampuan berdisiplin diri, memahami, dan menghargai diri.

8. Kecerdasan Naturalis
Adalah keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies di lingkungan sekitar. Kepekaan terhadap fenomena alam, dan kemampuan membedakan benda tak hidup.

Overall, Diskriminasi ilmu adalah penghambat pelajar dalam berkembang, setiap orang berhak untuk berkembang dengan ilmu berdasarkan bakat alamiah dan ilmu yang diminatinya. Diskriminasi ilmu seharusnya tidak lagi menjadi suatu bentuk bullying yang sangat kejam. Karena seorang anak memiliki kecerdasannya masing-masing untuk berkembang, kecerdasan itu terbagi menjadi 8, yaitu kecerdasaran linguistik, kecerdasan matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

4 thoughts on “Diskriminasi Ilmu Sebagai Penghambat Pelajar Untuk Berkembang

  1. Setuju banget tuh yang tentang diskriminasi dari kecil, dari tingkat SMA yang IPA IPS… padahal keinginan orang tua belum tentu yang terbaik buat anak-anaknya. soalnya kita ga boleh diskriminasi dan memaksakan kehendak…

  2. Saya sangat suka sekali postingnya. Sangat menginspirasi dan mengandung pesan motivatif yang jelas. Kalau bisa terus buat posting yang sangat informatif dan memang memperbincangkan situasi sosial yang rill terjadi. Terima Kasih sebelumnya. Salam kenal, saya adalah lulusan Unswagati Cirebon. Keep Smilee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s